Dahulu Desa Ngrejo ini belum berbentuk desa dan belum berpenghuni, masih berbukit-bukit, lembah dan sungai yan curam dan huni berbagai macam binatang berkeliaran di kawasan ini diantaranya harimau, singa, banteng, rusa, ular, babi dan masih banyak binatang yang lainnya.
Pada kurun waktu itu tempat ini bisa disebut jalmo maro jalmo mati, sato moro sato mati sehinga menambah kewingitan dikawasan ini.
Akhirnya pada waktu itu ada seorang pengembara yang datang dari daerah pesisir pantai tepi samudra Hindia yang bernama Rekso Mulyo dan seorang lagi bernama Ki Mrangi. Mereka datan di daerah ini pada tahun 1820 an, hingga suatu hari kedua orang tersbut berteduh di bawah sebuah pohon sambodjo yang rindang, mereka berdua melakukan ritua semedi dan ngasah ilmu kejawen selama 40 hari lamanya (istilah jawa banter lelaku).
Pada suatu hari malam jum’at kliwon Ki Rekso Mulyo dan Ki Mranggi yang telah berada di tempat tersebut selama 29 hari, dengan posisi Ki Rekso Mulyo menghadap ke selatan dan Ki Mranggi menghadap ke kiblat kemudian terjadilah sebuah keajaiban Ki Rekso Mulyo melihat Tedjo Manther dan Ki Mranggi melihat Kukus, asap keluk dari bawah pohon itu juga ada Sembodjo.
Keesukan harinya dalam keadaan hujan grimis antara pukul 16.00 – 17.00 WIB kedua orang tersebut melakukan sholat Asar dan berdo’a meminta kepada Tuhan Yang Esa ( Sang Yang Wedi). Ki Rekso Mulyo dan Ki Mranggi berembuk tentang firasat yang mereka perolah, selanjutnya pada malam itu juga mendapat firasat melalui impian tetang dua hal pilihan yaitu kembali ke rumah (pulang) atau harus tetap disitu. Akhirnya kedua orang tersebut membagi tugas Ki Mranggi pulang ke Sumbreng dan KiRekso Mulyo tetap di temapat semedi dan berdo’a.
Ki Rekso Mulyo brepikir apabila Ki Mranggikemudian kembali dan membawa sanak keluarga, maka kan diajak bercocok tanam dan membagun rumah tangga di kawasan ini. Smabil menunggu datangnya Ki Mranggi, maka Ki Rekso Mulyo babat hutan di bawah pohon Sambodjo yang selalu mengeluarkan asap di setiap sore hari. Ki Rekso Mulyo membersihkan sekitar pohon sambodjo dan menemukan tempat seperti petilasan untuk istirahat seorang bangsawan dan akhirnya tempat tersebut dijadikan tempat berdo’a (semedi) oleh Ki Rekso Mulyo, kemudian selang tujuh belas hari datang Ki Mranggi beserta sanak keluarnya sejumlah 40 orang , kemudaian mereka melakukan babat hutan untuk bermukim dan bercocok tanam.
Belum sampaimerka memtik buah dari hasil tanamanya sudah banyak diantara mereka yang sakit dan meninggal dunia. Meski demikian Ki Rekso Mulyo tetap mempunyai keyakinan bahwa temapat ini suatu masa nanti akan bisa menjadi Redjo ( ramai) karena dikaitkan dengan isaroh lewat impiannya.
Dan kemudia berangsur-angsur mulai berdatangan para penduduk dari Trengalek sebanyak 196 orang dan terus melakukan babat hutan. Ki Mranggi diangkat sebagai sesepuh atau ketua, Ki Mranggi punya pemikiran tempat ini dinamakan NGRETDJO yang artinya
NGRET : adalah mungkret semakin sedikit karena banyak
yang mati
DJO : adalah Redjo, ramai besuk akan jadi desa yang
besardan pusat para orang pinter dan orang cukup.
Demikian awal mula nama desa NGRETDJO yang sekarang diejak NGREJO.
Sedang nama sungai Dung Tedjo pada waktu K Rekso Mulyo mengetahui Tedjo, maka sekeliling sungai tersebut dinmakan Kedung Tedjo, untuk memudahkan wilayah kerja pada saat itu.
Sedang nama Keluk karena Ki Mranggi seringkali melihat ada kukus atau asap maka tempat itu disebut Keluk.
Sedang nama Punden karena tempat itu adalah tempat yang pertama kali untuksemua kegiatan dan tempat istirahat atau tempat berdo’a, perlu dipundi-pundi, dilestarikan agar dikelak kemudian tidak hilang sejarah terjadinya desa yang ramai.Agar tempat itutetap dipundi-pundi untuk meengingat para petani pada saat itu disebut PUNDEn, sehingga tempat tersebut digunakan untuk tempat berdo’a beribadah dan tempat bertemu oleh semua para petani pada saat itu, dan kepentingan apapun berkumpul ditempat tersebut di bawah pohon sambodjo.
Berjalan beberapa tahun kemudian jumlah penduduk semakin bertambah banyak antara tahun 1823, penduduk menjadi 301 orang termasuk bapak, ibu dan anak.
Para petani banyak yang akan kembali ke tempa asal, karena tanamannya kekeringan dan Ki Mranggi dan Ki Rekso Mulyo mempunyai inisiatif mengajak para penduduk berdo’a bersama di bawah pohon sambodjo antara jam 11 siang mohon kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk hujan diturunkan, kendian sekitar jam 13.00 wib hujan sudah turun dan para petani semakin tenang dan tidak jadi kembali ke tempat asalnya.
Pada tahun 1825 : Ki Mranggi meninggal dunia karena sudah tua
Pada tahun1830 : Ki Rekso Mulyo keluar dari daerah babtan ke salah satu tempat pemukiman Desa Maron, selanjutnya secara pemerintahan desa Ngrejo diurus Desa Maron.
Pada tahun 1831 : Ki Rekso Mulyo pergi tidak diketahui perginya menjadikan bingungsemua pengikutnya.
Selanjutnya sisilah yang menjadi sesepuh/ketua/kepala desa adalah :
Pada tahu 1850 : Desa Ngrejo dipimpin oleh sesepuh Sono Tani Redjo lalu dignati Ki Selo Tani
Pada tahun 1870-1890 : M Badrun dari Maron
Pada tahun 1912-1918 : Bauredjo dari Maron
Pada tahun 1918 1921 : Bardi
Pada tahun 1921-1925 : Amat Karso
Pada tahun 1925-1935 : Sonokardjo
Pada tahun 1925-1948 : Somo Suwito dari Trengalek